Selasa, 05 Oktober 2010

Mawar yang Rapuh

Menghela napas panjang, akupun hanya tertunduk lesu menghadapi kenyataan hidup ini. Itu mungkin mawar terakhir yang kupersembahkan padanya sebagai rasa cintaku yang tulus kepadanya. Aku berkata bagaimana mungkin aku bisa tenang melihat kau bersamanya, bagaimana sikapmu yang dulu sangat tidak ramah kepadaku disaat kau sedang berdua dengannya. Tapi sekali lagi aku hanya menghela napas panjang, meminum segelas kopi pahit yang rasanya mungkin tidak sepahit rasa yang sedang kualami ini.

"Aku mencintaimu sampai saat ini, ga peduli bagaimana sikapmu padaku yang telah menyakitiku", itulah yang aku ucapkan tadi kepadanya sembari memberikan dua buah bunga mawar yang harganya tidak lebih dari bunga bank kekasihnya. Dia hanya melihat mataku, tanpa mengucap apa-apa. Lalu dia balik bertanya, " Mengapa kau memberi bunga ini padaku? Apakah aku pantas menerimanya?". Aku menjawab dengan lirih, "Ga ada wanita selain kamu yang pernah aku beri bunga mawar !". Dia hanya kembali menatapku.

Kami hanya saling diam, diam, dan diam. Itulah yang kami lakukan untuk ke sekian kalinya selama tiga tahun. Aku hanya mencintainya tanpa peduli apapun tentang dia. Aku mencintainya walaupun dia menyakitiku. Aku mencintainya walaupun dia membohongiku.

 

Sepi sendiri

Apakah akan terus seperti ini?

Aku kelu,ragaku gemetar

Jantung berdegup kencang

Biru, haru itu yang terasa

Jiwaku bergejolak rapuh

Hanya sentuhan kecilpun mampu menghancurkanku

Lirih itu menyapa dengan alunan lagu cinta

Pedih menderu, bak serangan kapal perang

Tak mampu aku berdiri sendiri

Hanya kau yang bisa menemani

 

#eaa eaaa eaaaa

Tidak ada komentar: