Rabu, 06 Oktober 2010

Is This The Cost of Truth >

Journalist who covered environmental issues found dead

Published on 26 July 2010

 

Reporters Without Borders urges national police chief Gen. Babang Hendarso Danury to ensure that the police conduct an exhaustive and impartial investigation into the death of Muhammad Syaifullah, the Borneo bureau chief of the leading national daily Kompas, and do not prematurely rule out the possibility that he was murdered in connection with his work.

Syaifullah was found dead today in his home in Balikpapan, on the island of Borneo. The cause of death is not yet known. The police said that his body was found in front of a TV set, that there was froth around his mouth and that the muscles of his face were contracted.

“Nothing should be ruled out in advance by those carrying out the autopsy and the investigation,” Reporters Without Borders said. “The sensitive stories on which Syaifullah was working could have angered local companies. Even if there are no grounds for saying this with certainty, it is essential that no hypothesis neglected.”

Syaifullah’s body was found by worried colleagues who went to his home this morning because his family, who live in another city, had not heard from him since 24 July.

After learning about the condition of the body, several local journalists speculated that he could have been poisoned. But the police said he could have died as result of a heart attack, hypertension or diabetes. The autopsy is still under way.

Syaifullah was outspoken in his criticism of deforestation and environmental destruction in Kalimantan, the Indonesian part of the island of Borneo.

Adapte From : Reporters Without Borders

Selasa, 05 Oktober 2010

Mawar yang Rapuh

Menghela napas panjang, akupun hanya tertunduk lesu menghadapi kenyataan hidup ini. Itu mungkin mawar terakhir yang kupersembahkan padanya sebagai rasa cintaku yang tulus kepadanya. Aku berkata bagaimana mungkin aku bisa tenang melihat kau bersamanya, bagaimana sikapmu yang dulu sangat tidak ramah kepadaku disaat kau sedang berdua dengannya. Tapi sekali lagi aku hanya menghela napas panjang, meminum segelas kopi pahit yang rasanya mungkin tidak sepahit rasa yang sedang kualami ini.

"Aku mencintaimu sampai saat ini, ga peduli bagaimana sikapmu padaku yang telah menyakitiku", itulah yang aku ucapkan tadi kepadanya sembari memberikan dua buah bunga mawar yang harganya tidak lebih dari bunga bank kekasihnya. Dia hanya melihat mataku, tanpa mengucap apa-apa. Lalu dia balik bertanya, " Mengapa kau memberi bunga ini padaku? Apakah aku pantas menerimanya?". Aku menjawab dengan lirih, "Ga ada wanita selain kamu yang pernah aku beri bunga mawar !". Dia hanya kembali menatapku.

Kami hanya saling diam, diam, dan diam. Itulah yang kami lakukan untuk ke sekian kalinya selama tiga tahun. Aku hanya mencintainya tanpa peduli apapun tentang dia. Aku mencintainya walaupun dia menyakitiku. Aku mencintainya walaupun dia membohongiku.

 

Sepi sendiri

Apakah akan terus seperti ini?

Aku kelu,ragaku gemetar

Jantung berdegup kencang

Biru, haru itu yang terasa

Jiwaku bergejolak rapuh

Hanya sentuhan kecilpun mampu menghancurkanku

Lirih itu menyapa dengan alunan lagu cinta

Pedih menderu, bak serangan kapal perang

Tak mampu aku berdiri sendiri

Hanya kau yang bisa menemani

 

#eaa eaaa eaaaa

Minggu, 03 Oktober 2010

Piagam Belas Kasih "Charter for Compassion"

Piagam Belas Kasih

Prinsip belas kasih tersemat dalam jiwa semua tradisi agama, etika atau kerohanian, dan menyeru kepada kita untuk selalu memperlakukan orang lain sebagaimana yang kita ingin diperlakukan. Belas kasih memaksa kita bekerja tanpa kenal lelah untuk menghapuskan penderitaan sesama manusia. Dan untuk melepaskan kepentingan kedudukan kita

demi kebaikan dan kesejahteraan orang lain, serta untuk menghormati kesucian tak terganggu-gugat setiap orang, memperlakukan setiap orang dengan keadilan, kesamaan dan rasa hormat yang mutlak, tanpa pengecualian.

Adalah juga penting dalam kehidupan masyarakat dan perorangan untuk terus-menerus menahan diri secara konsisten dan empatik dari tindakan menyakiti orang lain. Bertindak dan berkata-kata kasar karena rasa dendam, kesombongan bangsa, atau kepentingan diri, untuk mengurangkan, mengekploitasi atau menyangkal hak asasi siapa pun dan menghasut kebencian melalui fitnah – bahkan terhadap musuh pun– adalah suatu penyangkalan terhadap kemanusiaan bersama. Kami mengaku bahwa kami telah gagal hidup berbelas kasih dan malahan ada juga yang menambah penderitaan sesama manusia atas nama agama.

Oleh itu kami menyeru kepada semua orang, laki-laki dan perempuan, supaya ~ menghidupkan kembali perasaan belas kasih sebagai asas etika dan agama ~ untuk kembali kepada prinsip asali bahwa setiap tafsiran Kitab Suci yang melahirkan kekerasan, kebencian atau penghinaan, adalah tidak sah ~ untuk menjamin kaum muda diberi informasi yang tepat dan menghargai tradisi, agama dan kebudayaan lain ~ untuk mendorong penghargaan yang positif terhadap kepelbagaian budaya dan agama ~

untuk menyemai empati atas penderitaan semua umat manusia – termasuk mereka yang dianggap musuh.

Kita sangat perlu menjadikan belas kasih sebagai suatu kekuatan yang jelas, bercahaya

dan dinamik dalam dunia kita yang terpolarisasi. Berakar dalam tekad mendasar untuk mengatasi keakuan, belas kasih dapat meruntuhkan batas-batas politik, dogmatik, ideologis dan keagamaan. Lahir dari ketergantungan kita yang mendalam antara satu dengan yang lain, belas kasih adalah esensil bagi hubungan antara manusia dan untuk menggenapi kemanusiaan. Belas kasih adalah jalan ke pencerahan, dan tak dapat diabaikan dalam menciptakan suatu ekonomi yang adil dan suatu kehidupan global bersama yang damai.

 

English Version

Charter of Compassion

The principle of compassion lies at the heart of all religious, ethical and spiritual traditions, calling us always to treat all others as we wish to be treated ourselves. Compassion impels us to work tirelessly to alleviate the suffering of our fellow creatures, to dethrone ourselves from the centre of our world and put another there, and to honour the inviolable sanctity of every single human being, treating everybody, without exception, with absolute justice, equity and respect.

It is also necessary in both public and private life to refrain consistently and empathically from inflicting pain. To act or speak violently out of spite, chauvinism, or self-interest, to impoverish, exploit or deny basic rights to anybody, and to incite hatred by denigrating others—even our enemies—is a denial of our common humanity. We acknowledge that we have failed to live compassionately and that some have even increased the sum of human misery in the name of religion.

We therefore call upon all men and women ~ to restore compassion to the centre of morality and religion ~ to return to the ancient principle that any interpretation of scripture that breeds violence, hatred or disdain is illegitimate ~ to ensure that youth are given accurate and respectful information about other traditions, religions and cultures ~ to encourage a positive appreciation of cultural and religious diversity ~ to cultivate an informed empathy with the suffering of all human beings—even those regarded as enemies.

We urgently need to make compassion a clear, luminous and dynamic force in our polarized world. Rooted in a principled determination to transcend selfishness, compassion can break down political, dogmatic, ideological and religious boundaries. Born of our deep interdependence, compassion is essential to human relationships and to a fulfilled humanity. It is the path to enlightenment, and indispensible to the creation of a just economy and a peaceful global community.

 

Please read and add your name. May God bless y'all.

 

Source : Here

Jumat, 01 Oktober 2010

Message From The Most Beautiful Woman In The World About HIV

Download now or watch on posterous
Nadia.FLV (1631 KB)
I got my permission to forward this to my blog :

sigi_ari 

thank you for your permission RT @Nadya_HutaGalng: @sigi_ari please do!

SUPPORTS THE FIGHT AGAINTS HIV & AIDS

Kamis, 30 September 2010

Plastik yang Terurai

Cintai lingkungan alam dengan tidak membungkus bumi dengan plastik, tapi baru nyadar ada tas kresek plastik dari minimarket yang ada tulisan seperti ini "tas ini dapat hancur dengan sendirinya". Hah, yang bener, mau mencoba menguji sendiri, butuh berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk tas ini bisa hancur dengan sendirinya. Yah, tapi great job lah bisa membuat plastik yang terurai. Good job guys.

Upah yang di(CUKUP)kan

Cuaca yang tak bersahabat dengan suhu udara yang cukup membuat kepala pening dan panas yang mampu membakar kulit sama sekali tidak dihiraukan oleh "pekerja pengangkat barang" itu. Waktu itu saya sedang mengantar Ibu saya ke Pasar Legi untuk membeli sesuatu, saya memarkirkan motor, tidak ikut masuk ke pasar, saya mulai mengamati keadaan sekitar pasar, daripada saya bengong sendiri di motor, saya mencoba mengambil gambar keadaan orang-orang yang bekerja di Pasar Legi. Saya melihat beberapa "pekerja pengangkat barang", mereka mengangkat barang-barang yang menurut ukuran saya sangatlah berat, ada yang mengangkat beras, buah-buahan, sayuran, dan berbagai macam barang lainnya. Lalu saya melihat Mas ini mengangkat karung goni yang saya tidak tahu isinya apa. Saya cuma menebak-nebak, apa isi karung goni itu, Bapak yang menyewa jasa Mas tersebut menyuruhnya membawa dua karung goni, yang ukurannya cukup besar, bisa dilihat sendiri di foto. Saya berpikir apakah Bapak itu bisa mengangkut dua karung goni sekaligus dalam satu motor ke tujuan? Apakah itu tidak berbahaya? Tapi mungkin, dia sudah terbiasa melakukan pekerjaan itu setiap hari. 

Kemudian "pekerja pengangkat barang" itu sudah meletakkan karung goni itu di tempatnya, di atas jok motor, dia sudah selesai melakukan tugasnya. Saya melihat Bapak itu menyodorkan uang kepada Mas itu, saya tidak begitu melihat jumlahnya, berapa ya yang dikasih Bapak itu? Apakah sesuai dengan pekerjaan yang sudah dilakukan Mas tadi yang mengangkut dua karung goni berat dari dalam ke luar pasar. Ya, semoga saja apa yang diterima Mas tadi cukup untuk memenuhi kebutuhannya, atau dicukupkan istilahnya.

Yah, akhirnya saya pun pulang  dengan beberapa pertanyaan yang belum terjawab. Pekerjaan apapun jika kita bekerja dengan kesungguhan hati, Tuhan pasti melihat, Dia yang paling adil dalam memberi rejeki, paling adil dalam kehidupan ini. God bless y'all guys.